HIKAYAT TURAB
(Monolog Debu)
Wuss.. Angin kemarau ini masih terus saja mempermainkanku seperti halnya guratan nasib. Membenturkanku ke sana dan ke mari. Setiap menepak kawan selalu melahirkan keluh. Aih, dasar makhluk kurang ajar.. kau selalu saja mengotoriku, keluh daun.
Bahkan, hingga sekarang bunga masih terus memusuhiku. “Kau merusak kecantikan parasku. Kau tak pernah tahu nilai sebuah keindahan,” jeritnya suatu hari, ketika aku menyapanya.
--oOo--
Aku adalah Turab. Hidupku selalu berpindah tempat, berkelana mengelilingi jagat. Telah kusinggahi berbagai tempat di belahan bumi, mengikuti perjalanan angin dan perputaran mentari. Telah kusaksikan selaksa dialektika dan kausalitas kehidupan. Akulah saksi sejati kejayaan dan kehancuran suatu golongan, kekayaan dan kemiskinan sekelompok orang, pengabdian dan pengkhianatan umat manusia.
Aku telah melihat kejujuran Socrates, keculasan Yudas, kearifan Lukman, keperkasaan Alexander, kelahiran Isa putra Maryam, kematian Namrudz, kesusahan, kesenangan, anugerah, dan bencana, bahkan peristiwa yang seakan tanpa makna. Namun di manapun aku berhenti, selalu keluh gundah yang kuterima, kau mengotoriku.
Aku adalah Turab, berayah langit beribu bumi. Kujalani hidup mengemban dawuh agung Sang Gusti. Meski kadang tak kumengerti mengapa begitu.. mengapa begini, termasuk "Mengapa aku hanya tercipta sebagai turab.."
“Jalani kehidupanmu dengan ikhlas anakku,” begitu pesan emakku setiap kali aku tergeletak kelelahan di pangkuannya, setelah dipermainkan badai atau menemani angin berkeliling jagat, “karena keikhlasan melangkah adalah tapakan awal menuju kesejatian.”
Aku tak paham, tapi kujalani juga. Aku ingin jadi anak yang berbakti, aku ingin dicintai emakku. Terlebih, aku ingin bertemu dengan bapakku di atas sana. “Kau baru akan bertemu bapakmu setelah memahami rahasia kesejatian semesta,” begitu katanya setiap kali kutanyakan berapa lama lagi dapat kutemui ayah.
“Bagaimana mungkin bisa kupahami rahasia semesta, Mak? Jagat ini begitu luas, di setiap jengkalnya ada selaksa peristiwa kehidupan. Setiap kali aku sampai di tempat terbenamnya matahari, aku sudah lupa dengan rangkaian kenangan di tempat terbitnya,” sergahku tak puas.
“Teruslah melangkah, lanjutkan perjalananmu,” jawabnya sambil tersenyum, damai, “saksikan terus sejarah sandiwara manusia, karena yang kau cari ada bersama mereka.”
“Mengapa harus manusia, Mak?,” tanyaku heran, “bukankah alam, bebatuan, pepohonan, bahkan kotoran jauh lebih kaya dengan pelajaran.”
“Anakku, alam melangkah dalam garis harmoni dan gurat takdirnya, tak ada sedikit pun ada perlawanan. Hanya keagungan kuasa Tuhan yang akan kau lihat dalam keragaman dan keselarasannya. Tak akan ada perbantahan kebenaran di sana. Tetapi, pergolakan sejarah manusia akan mengajarkanmu sebuah kearifan.”
“Aku tak paham maksud emak, bukankah manusia juga berjalan di atas takdirnya, sama seperti alam? bukankah mereka juga berada di bawah bimbingan cahaya Kanjeng Gusti”.
“Sangat berbeda, anakku,” kali ini pandangan emakku menerawang jauh, ada telaga kesedihan di sana, “Ia makhluk istimewa, Kanjeng Gusti membekalinya dengan akal budi, agar mereka bisa belajar, berfikir dan menumbuhkan kebijaksanaan. Karena di bahunya ada mandat nggulawentah kehidupan. Tapi lihatlah kenyataannya, sejarah manusia terus menerus berulang, peristiwa yang sama kembali terjadi dan terjadi, pertarungan kebajikan dan angkara murka terus berkobar, meski dengan tokoh dan tempat yang berbeda. Padahal masa tak pernah berputar kembali.”
Aku terdiam.
“Mereka tak pernah mau belajar dari sejarah, meski utusan Kanjeng Gusti menyapa silih berganti.. meski firman-Nya tak henti mengajari. Belajarlah dari kehidupan terdahulu.. lanjutkan perjalananmu, anakku. Karena yang kau cari ada di sana.”
Aku mengangguk perlahan dan berlalu. Emakku masih memandangi ketika aku mulai kembali melangkah meninggalkannya, menjauh bersama masa. Parasnya yang semakin samar masih menyisakan banyak rahasia, yang mencambukku untuk terus mencari.
--oOo--
Aku adalah Turab. Hari ini genap tujuh ratus dua puluh ribu hari sejak percakapan terakhirku dengan emak. Kini aku berada di sebuah kota yang penuh dengan segala yang bertingkat, jajaran gedung bertingkat, liukan jalan bertingkat, kasta kehidupan yang bertingkat-tingkat dan tumpukan akal budi yang juga bertingkat-tingkat. Berhari-hari sudah kutelusuri lipatan jalan, sudut-sudut rumah dan keremangan taman di penghujung malam. Dan masih saja ada keluh terucap setiap kali aku menyapa, kau mengotoriku.
Tak beda dengan tempat lain yang telah kujelajahi. Di kota ini, bahkan di negeri ini, sejarah yang sama terus berulang. Pusaran kelahiran, kehidupan, dan kematian masih bergulat dengan pola yang sama meski dengan warna yang berbeda. Dan lagi-lagi, sangat sedikit yang mempergunakan akal budinya untuk memutus lingkaran nasib, memperbaiki tatanan kosmos kehidupannya.
Di sudut sebuah museum megah aku juga tersadar, sejarah negeri ini telah jauh lebih tua dari penanggalannya. Di negeri ini ada daur sejarah yang mengalir deras tak terputuskan, bergelimang air mata dan luka berdarah-darah. Ada rangkaian panjang nama-nama yang didendangkan alam elok negeri ini, yang masing-masing telah membubuhkan warna-warni sejarah, melalui jejak telapak kaki, gerak tangan, dan anyir darah dari luka yang menganga.
Hatiku tercekat, ada nuansa magis yang menyeramkan saat senandung alam negeri ini tiba pada hikayat kelam Rakai Pikatan, tipu muslihat wangsa Sanjaya, perjuangan Mpu Barada, kutukan Mpu Gandring dan kelahiran gilang gemilang Sang Damarwulan. Atmosfer pun berubah merah mengerikan bersama munculnya kepedihan, amarah, dan dendam saat kisah pengkhianatan Dyah Halayudha, rajapati keturunan Ken Arok melawan keturunan Tunggul Ametung, pembunuhan Aryo Penangsang, dan pecahnya keraton Mataram, di dendangkan.
Aku terpana. Tidak. Pusaran sejarah negeri ini tidak sama dengan tempat lain yang sudah aku kunjungi. Di sini pusaran itu masih demikian kuat bahkan bertambah kuat. Genangan darah di sudut-sudut negeri masih menyisakan air mata dan penderitaan. Hanya di negeri ini aku melihat ribuan iblis berkuasa di hati banyak manusia. Hatiku gemetar setiap kali terdengar gemuruh sorak sorai mereka yang mengiringi upacara kematian nurani.
Luar biasa, emakku benar. Di negeri ini aku menemukan jawaban dari kegelisahanku akan rahasia semesta: mengapa aku cuma tercipta sebagai Turab, sebutir debu hina yang diterbangkan angin kian kemari, dilarung badai digenang banjir. Begitu hina hingga setiap kali aku menyapa, mereka selalu mengeluh, “kau mengotoriku.”
Di sini, baru kusadari betapa aku jauh lebih mulia.. dan lebih beruntung dari manusia, sang khalifah. Akhirnya kusadari makna terdalam dari firman Kanjeng Gustiku yang menceritakan, betapa di pengadilan-Nya selaksa manusia menangis dan berkata, “Ya laytani kuntu turaba..”.
Mangkuyudan Solo, 15 Juli 2003
Catatan :
Turab (bhs. Arab) : debu
nggula wentah (bhs. Jawa) : mengelola
Ya Laytani Kuntu Turaabaa : "Aduhai, andai aku dulu menjadi debu saja..." (QS. An-Naba’; 40)

0 Comments:
Post a Comment
<< Home