Pena Sang Turab

Liak-liuk, lenggak-lenggok, dan kejang geliat pena Kang Iftah dalam perjalanan mencari binudiya

Thursday, August 13, 2009

Hitung Ringgitmu, Pembantu


Hitung ringgitmu, kataku
usap peluhmu, ujarku
keringkan darahmu, hardikku
hapus air matamu, kesalku

negri ini bukan panti babu
bangsa ini bukan sgerombolan tukang batu
yang boleh disuruh-suruh
lalu dilempar seperti kain belacu

Hitung ringgitmu, umpatku
sebandingkah dengan nyawamu
bisakah membayar penatmu
atau menghapus tangis anakmu

negeri jaya di masa lalu
ditakuti bangsa-bangsa serumpun melayu
tapi kini mengangkat wajah pun ku tak mampu
semua karena ringgit di anganmu

Hitung ringgitmu, memohonku
bandingkan dengan harga dirimu
jangan lagi kau hinakan dirimu, pintaku
agar tak lagi kudengar dukamu

negeri ini masih punya banyak harapan untukmu
tanah ini masih menyimpan emasmu
air ini masih bisa menyegarkan lelahmu
bumi ini masih menyisakan tawa bagimu

Hitung ringgitmu, tangisku
hapus pedihmu, usapku
keringkan lukamu, balutku
hilangkan dukamu, senyumku..

ibu pertiwimu masih menyimpankan tawa untukmu..

(Jakarta, 25 Juni 2009)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home