Pena Sang Turab

Liak-liuk, lenggak-lenggok, dan kejang geliat pena Kang Iftah dalam perjalanan mencari binudiya

Thursday, August 13, 2009

Sepenggal Drama 10 Muharram

Siang Berdarah Di Tepian Sungai Eufrat

Tragedi Karbala’, meski telah lewat 14 abad, masih mendengungkan nyanyian duka yang tiada henti. Berikut ini adalah babak terakhir Perang Karbala’ yang kembali dikisahkan bukan untuk memedihkan lagi luka sejarah itu, namun untuk sekedar mengingatkan, betapa perpecahan antar umat Islam sebaiknya tidak terjadi lagi.

Matahari bersinar garang, tepat di atas kepala-kepala berbalut sorban yang telah basah bermandikan keringat dan debu. Seorang pria setengah baya berteriak keras, “Hentikan pertempuran! Waktu Zhuhur telah tiba, kita harus shalat!!”

Sia-sia.

Suara pria gagah itu lenyap ditelan gemuruh ribuan pasukan musuh yang terus merangsek maju. Ia mengeluh. Perlahan ia memutar pandangan ke sekelilingnya. Satu.. dua.. tiga.. hanya tinggal belasan orang saja kerabatnya yang masih bertahan hidup. Dengan tenaga yang masih tersisa pedang mereka menebas ke kanan dan ke kiri, menumbangkan satu persatu musuh yang mencoba mendekat.

Pria yang berjuluk Sayyid Syabab Ahlil Jannah itu kembali menghela nafas. Ketika matahari terbit pagi itu, ada tujuh puluh dua orang keluarga dan sahabat prianya yang berdiri gagah di belakangnya. Namun kini tinggal beberapa...

Memang. Apalah arti tiga puluh dua penunggang kuda dan empat puluh orang pejalan kaki, dibanding empat ribuan orang pasukan musuh. Satu persatu anggota pasukan kecil itu tumbang sebagai syahid. Dan ketika matahari mulai tergelincir ke barat, hanya tinggal orang saja yang tersisa, berjuang membela harga diri, kehormatan dan kebenaran yang mereka yakini.

Padang tandus itu masih mengepulkan debunya ke udara. Tak hanya pengap gurun yang tercium, udara ditepian sungai Eufrat siang itu juga mulai menebarkan bau amis darah.

Siang itu, terik mentari padang pasir menjadi saksi sebuah peristiwa kelam yang terus dikenang hingga saat ini, Perang Karbala. Perang, yang terjadi antara Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib dan para pengikutnya melawan tentara Dinasti Umayyah yang dipimpin Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash dan Syimar bin Dziljausyan, itu nyaris memusnahkan keturunan Rasulullah dari garis Al-Husain. Konon, pertempuran tak berimbang yang tak ubahnya pembantaian itu sudah diramalkan Nabi Muhammad SAW di hari Al-Husain lahir.

Dikisahkan, 57 tahun sebelumnya, ketika mendengar Fatimah Az-Zahra telah akan melahirkan putra keduanya, Rasulullah segera bergegas menjenguknya. Tak lama kemudian tangis sang jabang bayi pun pecah. Tangis itu sangat keras, sekokoh hati pemiliknya. Nabi Muhamad lalu meminta cucunya itu dibawa ke pangkuannya untuk dibacakan adzan dan iqamah.

Asma binti Umais, sahabat Anshar yang membantu Fatimah saat melahirkan, segera menggendong bayi merah itu dan menyerahkannya kepada Baginda Nabi. Setelah diadzani dan diiqamati, sang jabang bayi lalu diberi nama Al-Husain, semakna dengan nama sang kakak yaitu Al-Hasan yang berarti kebajikan.

Berita dari Jibril
Ketika tengah asyik menciumi sang cucu, tiba-tiba Nabi termangu dan meneteskan air mata. Umais pun segera bertanya, “Mengapa di hari bahagia ini Anda menangis, wahai Rasulullah?.”

“Jibril baru saja memberitahu kepadaku, kelak anak ini akan dibunuh oleh sebagian umatku yang durhaka. Jibril juga menunjukkan tanah di mana Al-Husain terbunuh.”

Ibnul Atsir, dalam tarikh Al-Kamil-nya, menceritakan, Nabi pernah memberikan segumpal tanah berwarna kekuningan kepada Ummu Salamah, salah satu istri beliau, yang didapat dari Malaikat Jibril. Tanah tersebut, menurut kabar dari Jibril, berasal dari daerah di mana Al-Husain akan terbunuh dalam sebuah pertempuran.

Nabi berpesan kepada Ummu Salamah, “Simpanlah tanah ini baik-baik. Bila warnanya berubah menjadi merah, ketahuilah bahwa Al-Husain telah meninggal dunia karena dibunuh.”

Dan, tepat pada tanggal 10 Muharram 57 H, Ummu Salamah menyaksikan gumpalan tanah pemberian suaminya berubah warna menjadi merah. Tahulah ia, cucu kesayangan Rasulullah itu telah meninggal dunia. Ummu Salamah adalah orang pertama di Madinah yang mengetahui perihal kematian Al-Husain. Dari mulutnya pula berita duka itu menyebar ke segenap penjuru kota dan menggemparkannya.

Perang Karbala’ adalah tragedi terbesar kedua dalam sejarah Islam setelah beberapa perang saudara pada masa pemerintahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib, yakni Perang Jamal, yang menghadapkan Ali bin Thalib dengan Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Aisyah Ummul Mukminin, dan Perang Shiffin, antara tentara Khalifah Ali bin Abi Thalib dengan kubu Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Sebagaimana perang saudara sebelumnya, Perang Karbala juga menghadapkan dua tokoh generasi kedua Islam yang merupakan putra sahabat-sahabat terdekat Nabi, Al-Husain putra Sayyidina Ali dengan Umar putra Sa’ad bin Abi Waqash yang mewakili Yazid bin Muawiyyah dan gubernurnya di Kufah, Ubaidullah bin Ziyad.

Matahari terus bergerak ke arah barat. Menyadari pasukan musuh sama sekali tak berniat menghentikan pertempuran, bersama sisa pengikutnya Al-Husain pun mendirikan shalat khauf, shalat darurat di tengah medan perang. Di antara mereka tampak adik tirinya, Abbas; putra kedua Al-Husain, Ali Al-Akbar; dan kemenakannya, Qasim bin Hasan bin Ali. Bergantian mereka melaksanakan ruku’ dan sujud, sementara yang lain berusaha melindungi dengan pedang dan tombak.

Matahari semakin menyengat ketika shalat khauf usai. Kembali Imam Husain dan para pengikutnya berjuang mempertahankan diri. Dan kembali, satu persatu anggota pasukan kecil itu berguguran, hingga akhirnya tinggal Al-Husain, Ali Al-Akbar bin Al-Husain, dan Abbas saja yang tersisa.

Dengan gagah berani Ali Akbar menerjang musuh dan berhasil menumbangkan tiga atau empat orang musuh sebelum sebuah sabetan pedang membuatnya terluka parah. Ia mundur mendekati sang ayah karena merasa sangat kehausan. Namun sejak pagi, persediaan air rombongan Al-Husain telah habis. Sementara untuk mengambil dari sungai Eufrat yang tak seberapa jauh juga tak memungkinkan, karena ribuan tentara Umayyah berbaris menjaganya.

Dengan wajah iba Al-Husain menentramkan putranya, “Bersabarlah anakku, sebelum petang Datukmu Rasulullah SAW akan datang untuk memberimu minum dengan kedua tangan beliau yang mulia.”

Kemenakan Tercinta
Mendengar ucapan sang ayah yang menjanjikan kesyahidan, semangat Ali Akbar kembali tersulut. Ia segera kembali ke tengah pertempuran dan menumbangkan dua atau tiga lawan. Langkah pemuda pemberani terhenti ketika sebatang anak panah menembus lehernya. Ali Akbar menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuang sang ayahanda.

Tiba-tiba dari dalam tenda seorang perempuan menghambur keluar dan berlari menuju Imam Husain yang tengah memangku jasad Ali Akbar. Tangisnya pecah saat memeluk jenazah kemenakan tercintanya. “Terkutuklah orang-orang yang telah membunuhmu, Anakku,” raung Zainab binti Ali, adik kandung Al-Husain. Kematian Ali Akbar menggenapkan dukanya setelah sepagian melihat tiga putranya Aun Al-Akbar, Muhammad dan Ubaidullah gugur di medan perang Karbala’.

Al-Husain, sambil membawa jenazah Ali Akbar, segera menarik adiknya kembali ke tenda. Tiba-tiba dari arah belakang kemudian terdengar teriakan seorang bocah kecil, “Hai orang jahat! Kau mau membunuh pamanku?.”

Dengan berani anak itu menghadang laju seorang prajurit Umayyah yang akan membokong Al-Husain. Di tangannya tergenggam sebatang tongkat kayu. Sejurus kemudian Qasim bin Hasan bin Ali, demikian nama anak yang baru menginjak remaja itu, menjerit karena seorang tentara musuh menebas putus tangan mungilnya.

Al-Husain segera meraih remaja yang mewarisi ketampanan ayahandanya itu. Dengan lembut ia berbisik di telingan kemenakan kecilnya, “Tabahkan hatimu, anakku sayang. Allah akan segera mempertemukanmu dengan ayah dan kakekmu.”

Kini hanya tersisa Al-Husain dan adik tirinya Abbas bin Ali. Penatnya bertempur seharian dan teriknya matahari siang membuat dahaga keduanya tak tertahankan lagi. Mereka pun nekat menerobos barisan tentara Umayyah yang menjaga tepian sungai Eufrat. Berhasil. Dengan tergesa keduanya menciduk air dengan kedua telapak tangannya.

Namun sebelum dahaga itu terobati, hujan anak panah membuat Abbas rebah tak bangun lagi. Sebatang anak panah juga menghujam pipi Al-Husain. Dengan pilu dicabutnya anak panah dan menutup lubangnya dengan telapak tangan. Kepala suami Syahbanu, putri kerajaan Persia, itu kemudian tengadah dan berdoa, “Ya Rabb, hanya kepada-Mu aku mengadu. Lihatlah perlakuan mereka terhadap cucu rasul-Mu.”

Matahari telah condong di ufuk barat. Waktu Ashar yang telah datang menjelang menjadi saksi Al-Husain yang tinggal berjuang sendirian. Wajahnya nampak lelah, meski tak mengurangi sorot keberaniannya, dan sekujur tubuhnya dipenuhi luka senjata.

Puluhan anggota pasukan Umayyah mengurungnya. Namun seperti tersihir, tak satupun yang berani mengayunkan pedang ke arah Imam Husain. Nampaknya ada keraguan yang menyelimuti benak masing-masing pasukan. Mereka tengah menimbang, “Beranikah menanggung resiko menjadi orang yang menghabisi nyawa cucu Rasulullah?.”

Sementar Al-Husain, dengan segala kewibawaan dan harga diri yang diturunkan ayah dan kakeknya, berdiri di tengah-tengah dengan pedang teracung. Ia berseru lantang, “Apa yang membuat kalian ragu membunuhku. Majulah. Demi Allah, tidak ada pembunuhan yang lebih dibenci Alah dari pada pembunuhanku ini. Sungguh Allah akan memuliakanku, dan menghinakan kalian.”

Pahlawan Karbala’
Melihat Al-Husain sendirian di tengah kepungan musuh, Zainab –yang belakangan di kenal sebagai Bathalah Karbala, pahlawan Karbala—berseru, “Mudah-mudahan langit ini runtuh.” Ketika itulah Umar bin Sa’ad, sang panglima tentara Umayyah, melintas. Zainab pun memanggilnya, “Hai Umar, tega sekali kau melihat Husain dibunuh di depan matamu.” Umar tertegun, matanya nampak berkaca-kaca, namun ia segera berlalu.

Tiba-tiba Syimar Dzil Jausyan mendekati kepungan. Melihat anak buahnya tak ada yang berani menyerang al-Husain, ia pun membentak, “Terkutuk kalian semua! Apa yang kalian tunggu? Cepat bunuh dia! Khalifah akan memberikan hadiah yang besar bagi kalian.”

Bentakan itu seakan membangunkan mereka dari mimpi. Zara bin Syarik mengayunkan pedangnya hingga memutuskan lengan kiri Al-Husain. Masih dalam keadaan limbung, tombakan Sinan bin Nakhi merobohkan tubuh cucu baginda Nabi itu ke tanah. Melihat teman-temannya masih diam tertegun, Sinan segera turun dari punggung kudanya dan memenggal kepala Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib. Al-Husain wafat pada tanggal 10 Muharram 61 H, lima puluh tujuh tahun setelah Rasulullah mendapat kabar kematiannya dari Malaikat Jibril.

Tak cukup puas, serdadu-serdadu yang sudah kesetanan itu lalu menjarah benda berharga yang melekat pada mayat-mayat pejuang pembela Al-Husain dan merampok barang bawaan di tenda-tenda rombongan Ahlul Bait. Saat itulah Syimar menemukan Ali Asghar, putra Al-Husain, yang sedang terbaring sakit di dalam tenda dengan ditemani bibinya, Zainab. Lelaki biadab itu pun bermaksud menghabisi Ali Ashgar, kalau saja Zainab tidak mati-matian mempertahankannya.

Sambil memeluk keponakannya, wanita pemberani itu berteriak, “Apa akan kau bunuh juga anak yang sedang sakit ini?.”

Syimar ragu-ragu sejenak sebelum memilih untuk meninggalkannya. Mungkin ia berpikir, tanpa dibunuh pun anak yang sedang sakit itu akan mati sendiri, karena kehabisan bekalan makanan, minuman dan obat-obatan. Namun siapa yang tahu rahasia Allah? Justru dari anak yang nyaris terbunuh itulah keturunan Al-Husain kemudian dapat berlanjut hingga saat ini.

Demikianlah. Episode pilu hari itu ditutup dengan digelandangnya wanita-wanita Ahlul Bait dan Bani Hasyim beserta anak-anak mereka menuju kota Kufah, menghadap sang arsitek Perang Karbala, yakni Gubernur Ubaidullah bin Ziyad. Dengan tangan terbelenggu dan pakaian ala kadarnya, wanita-wanita mulia itu digiring sebagai tawanan perang. Beberapa hari kemudian rombongan manusia-manusia palin utama di zamannya itu kembali digelandang menuju Damaskus, Syiria, untuk dihadapkan kepada Yazid, penguasa tertinggi pemerintahan Dinasti Umayyah.

Para penguasa Umayyah mungkin tak menyadari, peristiwa 10 Muharram 61 H itu akan dikenang sepanjang masa sebagai bagian terkelam dalam sejarah peradaban Islam dan mendudukan mereka sebagai penjahat yang harus dimusuhi sepanjang masa. Terbukti dengan meletusnya pemberontakan demi pemberontakan berdarah yang mengatasnamakan penuntutan balas kematian Al-Husain, hanya berselang tujuh atau delapan tahun setelah insiden Karbala’.

Sampai di sini berakhirlah episode perang Karbala’, yang kembali dikisahkan bukan untuk memedihkan lagi luka sejarah itu, namun untuk sekedar mengingatkan, betapa perpecahan antar umat Islam sebaiknya tidak terjadi lagi.

Jakarta, Januari 2007

(Kang Iftah. . Diolah dari sumber-sumber : Baitun Nubuwwah, karya Al-Habib Muhammad Al-Hamid Al-Husaini, dan Husain: The Great Martyr, karya Prof. Fazl Ahmad, MA)

Hitung Ringgitmu, Pembantu


Hitung ringgitmu, kataku
usap peluhmu, ujarku
keringkan darahmu, hardikku
hapus air matamu, kesalku

negri ini bukan panti babu
bangsa ini bukan sgerombolan tukang batu
yang boleh disuruh-suruh
lalu dilempar seperti kain belacu

Hitung ringgitmu, umpatku
sebandingkah dengan nyawamu
bisakah membayar penatmu
atau menghapus tangis anakmu

negeri jaya di masa lalu
ditakuti bangsa-bangsa serumpun melayu
tapi kini mengangkat wajah pun ku tak mampu
semua karena ringgit di anganmu

Hitung ringgitmu, memohonku
bandingkan dengan harga dirimu
jangan lagi kau hinakan dirimu, pintaku
agar tak lagi kudengar dukamu

negeri ini masih punya banyak harapan untukmu
tanah ini masih menyimpan emasmu
air ini masih bisa menyegarkan lelahmu
bumi ini masih menyisakan tawa bagimu

Hitung ringgitmu, tangisku
hapus pedihmu, usapku
keringkan lukamu, balutku
hilangkan dukamu, senyumku..

ibu pertiwimu masih menyimpankan tawa untukmu..

(Jakarta, 25 Juni 2009)

HIKAYAT TURAB
(Monolog Debu)

Wuss.. Angin kemarau ini masih terus saja mempermainkanku seperti halnya guratan nasib. Membenturkanku ke sana dan ke mari. Setiap menepak kawan selalu melahirkan keluh. Aih, dasar makhluk kurang ajar.. kau selalu saja mengotoriku, keluh daun.

Bahkan, hingga sekarang bunga masih terus memusuhiku. “Kau merusak kecantikan parasku. Kau tak pernah tahu nilai sebuah keindahan,” jeritnya suatu hari, ketika aku menyapanya.

--oOo--

Aku adalah Turab. Hidupku selalu berpindah tempat, berkelana mengelilingi jagat. Telah kusinggahi berbagai tempat di belahan bumi, mengikuti perjalanan angin dan perputaran mentari. Telah kusaksikan selaksa dialektika dan kausalitas kehidupan. Akulah saksi sejati kejayaan dan kehancuran suatu golongan, kekayaan dan kemiskinan sekelompok orang, pengabdian dan pengkhianatan umat manusia.

Aku telah melihat kejujuran Socrates, keculasan Yudas, kearifan Lukman, keperkasaan Alexander, kelahiran Isa putra Maryam, kematian Namrudz, kesusahan, kesenangan, anugerah, dan bencana, bahkan peristiwa yang seakan tanpa makna. Namun di manapun aku berhenti, selalu keluh gundah yang kuterima, kau mengotoriku.

Aku adalah Turab, berayah langit beribu bumi. Kujalani hidup mengemban dawuh agung Sang Gusti. Meski kadang tak kumengerti mengapa begitu.. mengapa begini, termasuk "Mengapa aku hanya tercipta sebagai turab.."

“Jalani kehidupanmu dengan ikhlas anakku,” begitu pesan emakku setiap kali aku tergeletak kelelahan di pangkuannya, setelah dipermainkan badai atau menemani angin berkeliling jagat, “karena keikhlasan melangkah adalah tapakan awal menuju kesejatian.”

Aku tak paham, tapi kujalani juga. Aku ingin jadi anak yang berbakti, aku ingin dicintai emakku. Terlebih, aku ingin bertemu dengan bapakku di atas sana. “Kau baru akan bertemu bapakmu setelah memahami rahasia kesejatian semesta,” begitu katanya setiap kali kutanyakan berapa lama lagi dapat kutemui ayah.

“Bagaimana mungkin bisa kupahami rahasia semesta, Mak? Jagat ini begitu luas, di setiap jengkalnya ada selaksa peristiwa kehidupan. Setiap kali aku sampai di tempat terbenamnya matahari, aku sudah lupa dengan rangkaian kenangan di tempat terbitnya,” sergahku tak puas.

“Teruslah melangkah, lanjutkan perjalananmu,” jawabnya sambil tersenyum, damai, “saksikan terus sejarah sandiwara manusia, karena yang kau cari ada bersama mereka.”

“Mengapa harus manusia, Mak?,” tanyaku heran, “bukankah alam, bebatuan, pepohonan, bahkan kotoran jauh lebih kaya dengan pelajaran.”

“Anakku, alam melangkah dalam garis harmoni dan gurat takdirnya, tak ada sedikit pun ada perlawanan. Hanya keagungan kuasa Tuhan yang akan kau lihat dalam keragaman dan keselarasannya. Tak akan ada perbantahan kebenaran di sana. Tetapi, pergolakan sejarah manusia akan mengajarkanmu sebuah kearifan.”

“Aku tak paham maksud emak, bukankah manusia juga berjalan di atas takdirnya, sama seperti alam? bukankah mereka juga berada di bawah bimbingan cahaya Kanjeng Gusti”.

“Sangat berbeda, anakku,” kali ini pandangan emakku menerawang jauh, ada telaga kesedihan di sana, “Ia makhluk istimewa, Kanjeng Gusti membekalinya dengan akal budi, agar mereka bisa belajar, berfikir dan menumbuhkan kebijaksanaan. Karena di bahunya ada mandat nggulawentah kehidupan. Tapi lihatlah kenyataannya, sejarah manusia terus menerus berulang, peristiwa yang sama kembali terjadi dan terjadi, pertarungan kebajikan dan angkara murka terus berkobar, meski dengan tokoh dan tempat yang berbeda. Padahal masa tak pernah berputar kembali.”

Aku terdiam.

“Mereka tak pernah mau belajar dari sejarah, meski utusan Kanjeng Gusti menyapa silih berganti.. meski firman-Nya tak henti mengajari. Belajarlah dari kehidupan terdahulu.. lanjutkan perjalananmu, anakku. Karena yang kau cari ada di sana.”

Aku mengangguk perlahan dan berlalu. Emakku masih memandangi ketika aku mulai kembali melangkah meninggalkannya, menjauh bersama masa. Parasnya yang semakin samar masih menyisakan banyak rahasia, yang mencambukku untuk terus mencari.

--oOo--

Aku adalah Turab. Hari ini genap tujuh ratus dua puluh ribu hari sejak percakapan terakhirku dengan emak. Kini aku berada di sebuah kota yang penuh dengan segala yang bertingkat, jajaran gedung bertingkat, liukan jalan bertingkat, kasta kehidupan yang bertingkat-tingkat dan tumpukan akal budi yang juga bertingkat-tingkat. Berhari-hari sudah kutelusuri lipatan jalan, sudut-sudut rumah dan keremangan taman di penghujung malam. Dan masih saja ada keluh terucap setiap kali aku menyapa, kau mengotoriku.

Tak beda dengan tempat lain yang telah kujelajahi. Di kota ini, bahkan di negeri ini, sejarah yang sama terus berulang. Pusaran kelahiran, kehidupan, dan kematian masih bergulat dengan pola yang sama meski dengan warna yang berbeda. Dan lagi-lagi, sangat sedikit yang mempergunakan akal budinya untuk memutus lingkaran nasib, memperbaiki tatanan kosmos kehidupannya.

Di sudut sebuah museum megah aku juga tersadar, sejarah negeri ini telah jauh lebih tua dari penanggalannya. Di negeri ini ada daur sejarah yang mengalir deras tak terputuskan, bergelimang air mata dan luka berdarah-darah. Ada rangkaian panjang nama-nama yang didendangkan alam elok negeri ini, yang masing-masing telah membubuhkan warna-warni sejarah, melalui jejak telapak kaki, gerak tangan, dan anyir darah dari luka yang menganga.

Hatiku tercekat, ada nuansa magis yang menyeramkan saat senandung alam negeri ini tiba pada hikayat kelam Rakai Pikatan, tipu muslihat wangsa Sanjaya, perjuangan Mpu Barada, kutukan Mpu Gandring dan kelahiran gilang gemilang Sang Damarwulan. Atmosfer pun berubah merah mengerikan bersama munculnya kepedihan, amarah, dan dendam saat kisah pengkhianatan Dyah Halayudha, rajapati keturunan Ken Arok melawan keturunan Tunggul Ametung, pembunuhan Aryo Penangsang, dan pecahnya keraton Mataram, di dendangkan.

Aku terpana. Tidak. Pusaran sejarah negeri ini tidak sama dengan tempat lain yang sudah aku kunjungi. Di sini pusaran itu masih demikian kuat bahkan bertambah kuat. Genangan darah di sudut-sudut negeri masih menyisakan air mata dan penderitaan. Hanya di negeri ini aku melihat ribuan iblis berkuasa di hati banyak manusia. Hatiku gemetar setiap kali terdengar gemuruh sorak sorai mereka yang mengiringi upacara kematian nurani.

Luar biasa, emakku benar. Di negeri ini aku menemukan jawaban dari kegelisahanku akan rahasia semesta: mengapa aku cuma tercipta sebagai Turab, sebutir debu hina yang diterbangkan angin kian kemari, dilarung badai digenang banjir. Begitu hina hingga setiap kali aku menyapa, mereka selalu mengeluh, “kau mengotoriku.”

Di sini, baru kusadari betapa aku jauh lebih mulia.. dan lebih beruntung dari manusia, sang khalifah. Akhirnya kusadari makna terdalam dari firman Kanjeng Gustiku yang menceritakan, betapa di pengadilan-Nya selaksa manusia menangis dan berkata, “Ya laytani kuntu turaba..”.

Mangkuyudan Solo, 15 Juli 2003

Catatan :
Turab (bhs. Arab) : debu
nggula wentah (bhs. Jawa) : mengelola
Ya Laytani Kuntu Turaabaa : "Aduhai, andai aku dulu menjadi debu saja..." (QS. An-Naba’; 40)